MELAWAN DIRI SENDIRI

Kita mati kutu dengan kemajuan karena engga terbiasa dengan pola dadakan. Engga kreatif dalam menghadapi teknologi yang canggihnya makin gila. Kita masih bangga untuk malas dan mati kutu dengan kenyataan atau realitas yang kita saksikan. Sebagai orang yang terjun di dunia kepenulisan, ada yang dalam setahun hanya satu atau dua tulisan yang terpublikasi. Dan itu berjalan hampir berapa tahun. Tapi dengan kondisi semacam itu masih saja berbangga diri. Sungguh, memanjakan diri atau orang malas dan miskin kreatifitas seperti itu membuat bangsa ini di ujung kehancuran. 

Mengapa dulu di saat terbatas, para ulama dan begitu banyak tokoh yang mampu berkarya? Jawabannya, karena mereka punya mimpi besar. Lalu, mengapa di saat serba mudah dan informasi yang begitu canggih, kita masih sibuk untuk memanjakan ego kita dan mental malas yang sudah mendarah daging? Kita kerap menghabiskan waktu untuk aktivitas sia-sia. Tak ada upaya untuk melawan mental malas dengan banyak membaca buku, atau menulis cerpen, puisi, essai atau artikel, misalnya. Sungguh, kemajuan dan kreatifitas mati karena kita sibuk mengurus kemalasan dan bangga dengan diri yang malas itu. Jangan berharap berubah dan punya karya terutama karya tulis kalau kita hanya bangga dengan rasa malas dan mental miskin dalam hal kreatifitas. Menunggu ini itu adalah musuh kreatifitas. 

Terbiasalah untuk menginisiasi sesuatu dengan pola baru alias cara gila. Lawan pola lama yang tidak produktif. Masa depan bukan milik para pemalas seperti kita, tapi milik mereka yang mampu melawan dirinya sendiri. Mimpi paling buruk adalah mimpi punya karya terutama karya tulis tapi tak ada inisiatif tuk menghadirkan kehangatan dan semangat berkarya. Masa depan adalah milik mereka yang kreatif dan inovatif, sebab mereka orang gila benaran. Maka jadilah orang gila yang kerap dianggap gila. Buktikan ide dan pikiran gila kita dengan cara tak biasa alias dengan cara gila. Saya ingin membuktikan bahwa kreatifitas hanya mungkin menjadi tradisi bahkan menjadi bagian dari kehidupan kita manakala ada yang memulai atau kita berani memulai. Lawan kemalasan, lawan kebiasaan buruk dan lawan stagnasi. Itulah yang membuat generasi pecinta pena benar-benar kreatif dan komitmen di dunia kepenulisan. 

Ingat, berbagai media sudah menanti tulisan kita. Penerbit buku juga begitu, sudah menanti naskah buku kita. Jangan biarkan kesempatan gratis berlalu begitu saja. Beranilah melawan diri sendiri. (Syamsudin Kadir, Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda Indonesia, Pegiat PENA di IAI Bunga Bangsa Cirebon)
No comments

No comments :

Post a Comment