PENA IAI BBC Menjadi Penggerak Literasi Kreatif



Di zaman yang semakin kompetitif ini, menjadi mahasiswa atau generasi kreatif menjadi niscaya. Tanpa itu, hanya akan menjadi korban bahkan tergilas oleh zaman. Maka memasifkan agenda menulis sebagai bagian dari aktivitas kreatif menjadi urgen untuk diperbincangkan sekaligus dijadikan tema diskusi di kalangan mahasiswa di berbagai kampus.

Hal ini tentu sangat menantang, sebab mengeksplorasi dunia kreatif, terutama yang kemudian disebut-sebut sebagai penyokong Ekonomi Kreatif yang pernah dicanangkan pemerintah akan menambah dinamika kreatif itu sendiri. Paling tidak ada sekitar 14 industri kreatif yang siap dikembangkan di Indonesia, yaitu 1) periklanan; 2) arsitektur; 3) pasar barang seni; 4) kerajinan; 5) desain; 6) fesyen; 7) video, film, fotografi; 8) permainan interaktif; 9) musik; 10) seni pertunjukan; 11) penerbitan dan percetakan; 12) layanan komputer dan piranti lunak; 13) televisi dan radio; 14) riset dan pengembangan.

Terkait hal ini seorang penulis sekaligus motivator dalam dunia kepenulisan dan penerbitan buku, Bambang Trim, bercerita tentang pengalamannya dalam menyelia sekitar 18 orang dosen dari Fakultas Seni Rupa IKJ untuk menulis 9 judul buku tentang ekonomi kreatif beberapa tahun lalu. Bang Trim, demikian ia kerap disapa, begitu takjub bahwa begitu banyak bidang ilmu kreatif yang dapat dieksplorasi ke dalam tulisan. Pasalnya ada profesi-profesi tertentu dalam industri kreatif yang tidak dikenal awam.

Menurut pengakuan Bang Trim, profesi scenografer yang masuk bidang seni pertunjukan, di dalam profesi ini ternyata terpecah lagi menjadi subprofesi dengan kekhususan bidang ilmu sendiri. Menurutnya, salah seorang yang termasuk langka dalam bidang seni pertunjukan ini dan beliau mengajar di IKJ adalah Pak Subarkah–beliau memiliki ilmu atau kemampuan tata rias artis.

Isu ekonomi kreatif memang sedang gencar, namun satu hal yang perlu ditekankan bahwa literatur tentang bidang industri kreatif tersebut sangatlah minim dan juga hampir tidak ada dalam bentuk buku, kecuali bidang yang populer seperti desain grafis. Mengapa? Para ahli maupun praktisi di industri kreatif itu tidak menuliskannya–tanpa mengatakan bahwa mereka tidak mampu menulis buku.

Namun, pengalaman melatih dan menyelia proses kreatif dosen-dosen di IKJ membuat Bang Trim yakin bahwa begitu banyak sumber ilmu dan keterampilan di Indonesia ini yang belum dibukukan, termasuk para pesohor di bidangnya yang belum menulis buku.

Berikutnya, menurut Bang Trim, yang perlu diingatkan bahwa semua bidang ekonomi kreatif itu memerlukan media tulisan, baik langsung maupun tidak langsung untuk mendukung produk kreatif tersebut. Misalnya, periklanan, teks iklan (copywriting) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan produk iklan itu sendiri. Begitu pula di bidang produk multimedia berbasis content, tulisan menjadi media yang mendukung pengembangan content itu sendiri.

Jadi, kunci memasuki era ekonomi kreatif adalah apa yang Bang Trim sebut ‘kecerdasan literasi’ atau kemampuan ‘membaca-menulis-mendengarkan-berbicara’ karena kreativitas memang dialirkan utamanya lewat bahasa serta seni. Tanpa kecerdasan literasi yang mumpuni pengembangan ekonomi kreatif bisa saja mandek dan malah tidak dapat diinformasikan secara efektif kepada khalayak.

Kemampuan menulis dalam arti menulis untuk publik bukanlah lagi kemampuan milik para penulis (mereka yang berprofesi di bidang penulisan-penerbitan). Namun, kemampuan menulis perlu dimiliki oleh siapa pun, terutama para pelaku industri kreatif karena pada dasarnya kemampuan ini dapat dilatihkan dan dikembangkan. Para dosen ataupun guru yang mengajar di bidang kreatif tentu lebih kren jika menulis buku teks ataupun modul pembelajaran bidang kreatif sendiri sehingga kiat proses kreatif yang mereka kuasai juga dapat disampaikan secara tertulis.

Mahasiswa pun dapat mengambil bagian dalam upaya ini. Sebab menulis itu sendiri bukan monopoli para penulis, mahasiswa biasa sekalipun sejatinya dapat menulis. Kuncinya adalah niat dan kemauan, di samping selalu ikut terlibat dalam kajian komunitas penunjang seperti PENA (di IAI Bunga Bangsa Cirebon), Penerbit Mitra Pemuda atau komunitas lain. 

Kreatif menulis, menulis kreatif …. Memang tidak gampang, tetapi secara taktis dapat dilatihkan dengan metode tertentu (topik-riset-inovasi-matriks) dengan pendekatan pembelajaran standar menulis: prewriting-drafting-revising-editing-publishing.  

PENA, sebagai Unit Kegiatan Kepenulisan di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC) merupakan wadah yang siap-sedia membantu Anda untuk mempermudah dan menemani Anda dalam mewujudkan diri Anda sebagai manusia kreatif terutama dalam mengelola kepenulisan sebagai aktivitas literasi yang lebih kreatif, bahkan lenih ekonmis. Caranya mudah saja. Silakan ikuti kajian PENA tiap hari Selasa dan Sabtu pukul 12.30-14.00 WIB bertempat di kampus IAI BBC, Tuparev-Cirebon. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Cirebon dan sekitarnya. Untuk pusat informasi, silakan hubungi: 089604285153. [Oleh: Syamsudin Kadir—Penulis ratusan Essai-Artikel di berbagai Media Massa, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon]





No comments

No comments :

Post a Comment