Perspektif Membangun Organisasi Mahasiswa



DIANTARA penjelasan identifikatif kepada mahasiswa (dan organisasi mahasiswa) adalah bahwa mahasiswa merupakan (1) penjaga moral, (2) agen perubahan, dan (3) stok pemimpin masa depan. Dalam konteks organisasi mahasiswa masa depan, identifikasi semacam itu hanya akan membuat kita sibuk mencari pujian tapi lupa memantaskan diri. Kita pun terpaku dan terpukau pada jumlah orang yang mengacungkan jempol-pujian atas identifikasi semacam itu, lalu kita tak sedikitpun menyediakan kesempatan untuk merumuskan sekaligus mengidentifikasi apa yang mesti kita lakukan agar identifikasi semacam itu pantas kita peroleh, bahkan mampu bertransformasi. Identifikasi semacam itu pun bagai “racun yang sangat berbahaya”, yang mesti kita hindari sejak dalam pikiran sebelum ia bertranfsormasi menjadi penghambat tindakan kita.

Menuju ke Masa Depan
            Untuk itu, ke depan organisasi mahasiswa mesti bertransformasi dari sekadar gerakan penjaga moral menjadi (1) pemilik sekaligus pembangun moral, dari agen perubahan menjadi (2) pelaku dan penentu perubahan, dan dari stok pemimpin masa depan menjadi (3) pemimpin masa kini sekaligus masa depan. Di antara modal yang mesti kita miliki, yaitu, pertama, membangun optimisme dan
rencana terhadap masa depan. Optimislah, bahwa organisasi mahasiswa semacam itu dapat kita ciptakan melalui rencana praktis: penguatan organisasi mahasiswa yang diawali dengan penguatan konstitusi atau tata aturan yang menjadi pijakannya. “Cara terbaik menciptakan masa depan adalah dengan cara merencanakannya di masa kini”, demikian ungkap pakar manajemen Peter Drucker. Dengan demikian, “Menguatkan Konstitusi, Memajukan Organisasi” yang menjadi tema Sidang Umum Senat Mahasiswa (SEMA) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) IAI Bunga Bangsa Cirebon (BBC) kali ini sejatinya sedang membangun kesadaran prediktif kita dalam memajukan organisasi.
            Kedua, mengambil peran-aktif. Kita dapat memulainya dengan menempatkan forum ini sebagai momentum penting sekaligus bersejarah. Penting, sebab di sini kita bisa terlibat dalam merumuskan secara ideal masa depan organisasi mahasiswa yang hendak kita impikan, sekaligus mencari titik temu atau menyamakan persepsi dan langkah yang mungkin kita tunaikan agar masa depan organisasi mahasiswa di kampus ini mempunyai efek: besar dan luas. Bersejarah, sebab dalam bingkai kolektivisme kita belajar untuk menyusun skema ideal organisasi yang hendak kita kelola sehingga ke depan memiliki efek jangka panjang.
Makna lainnya, keterlibatan kita pada forum ini adalah bagian dari sejarah yang tak terpisahkan dari seluruh relung kehidupan kita. Setiap detik yang kita lalui—termasuk dalam forum ini—pasti terbilang sebagai bagian dari perjalanan kehidupan kita tanpa kita pesan. Dalam konteks itu, Al-Qur’an  surat Al-Ashar (ayat 1-3) memberi kita perspektif yang jelas dan tegas. Surat tersebut begitu apik memandu kita bahwa manusia akan terus bergulat dalam dinamika waktu dengan segala risiko buruknya: merugi. Namun orang yang unggul (baca: beriman, beramal, suka menebar efek manfaat-baik dan sabar dalam menebar manfaat itu) justru mendapatkan risiko sebaliknya: beruntung.
 Dalam perspektif agama (dalam hal ini Islam), beruntung itu makna lainnya adalah berkah (memiliki nilai tambah atau mampu menghadirkan efek ganda). Diantara peranan penting organisasi dan berorganisasi adalah pada efek positifnya. Dalam dunia manajemen kita kenal dengan teori efek ganda. Indikator organisasi yang maju itu, diantaranya, adanya efek ganda. Selain berbicara tentang kemampuan melahirkan sumber daya (orang yang berkualitas, materi dan sebagainya), efek ganda juga berbicara soal peranan dan efektifitas peran masing-masing sumber daya. 
Ketiga, mau dan mampu mengelola momentum. Dalam studi fisika kita kenal satu rumusan bahwa momentum merupakan hasil kali dari masa dikali kecepatan. Ingat, bukan “ditambahkan” tapi “dikalikan”. Kalau kita kontekskan rumusan tersebut dalam organisasi mahasiswa, maka kita dapat merumuskan bahwa momentum (sejarah, perubahan, efek sosial) terlahir oleh dua hal, yaitu masa dikali kecepatan. Kalau masa berbicara soal sumber daya (orang yang berkualitas, materi pendukung dan sebagainya), maka kecepatan berbicara soal daya respon atau aksi ril yang berbasis pada time frame (peta atau skema waktu) yang terukur.
Kalau kita menyepakati bahwa organisasi mahasiswa di kampus ini mesti mampu menciptakan momentum (sejarah) atau menciptakan efek ganda, maka itu sejatinya satu pijakan sekaligus dorongan kuat dalam alam bawa sadar kita bahwa aktivis atau pegiat organisasi mahasiswa di kampus ini mesti memantaskan dirinya (sebagai masa) yang mampu merespon semua situasi di kampus ini (termasuk di luar kampus), sehingga mampu mengerjakan berbagai aktivitas secara ril. Sebagai masa, tentu masing-masing kita mesti memiliki kompetensi strategis; baik yang bersifat individu maupun yang bersifat kolektif (organisasi). Untuk itu baca, tulis, diskusi mesti kita masifkan sebagai budaya individu sekaligus organisasi yang ada di kampus ini. Praktisnya, daftar bacaan kita mesti diperbanyak, karena hal tersebut sangat menentukan peran ril kita dalam berorganisasi. Saldo ide kita juga sangat menentukan cara kita dalam menuntaskan agenda kerja sekaligus dalam menyelesaikan beragam daftar masalah yang kita temukan dan hadapi dalam juga selama berorganisasi.  
Kalau kita mau dan mampu, masa depan bukan saja mampu kita terawang, tapi juga sangat mungkin untuk kita ciptakan. Maknanya, masa depan sangat mungkin kita rumuskan atau rencanakan sejak dini. Rumusan momentum seperti yang sempat disinggung sebelumnya dapat kita elaborasi kembali. Kita mesti memiliki impian (cita-cita), visi-misi, tujuan atau orientasi yang jelas, serta selalu berinovasi, kreatif, juga produktif dalam menghasilkan karya, di samping memperkuat jaringan dan diplomasi, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan membangun situasi pendukung. 
Keempat, mampu membangun dan mengelola situasi pendukung. Dalam konteks ini situasi pendukung yang dimaksud diantaranya adalah orang-orang potensial. Meminjam tesis James Canton dalam bukunya The Extreme Future (2009) bahwa masa depan itu hanya dapat ditaklukan oleh mereka yang mampu “memfirasati” potensi orang lain. Orang-orang potensial di sekitar kita merupakan diantara contoh “potensi orang lain” dalam kehidupan sosial yang sangat ril dan gratis. Makanya, mereka yang berbeda “slera” dengan kita sejatinya adalah kekuatan strategis dalam memajukan organisasi. Dalam pandangan James Canton[1], mereka yang kerap tak hadir membersamai kita bahkan kerap “menabrak” kenyamanan kita adalah kekuatan. Mereka adalah basis daya dukung yang memiliki daftar ide, analisis dan daya kritis. Mereka bisa jadi tak dikenal oleh khalayak, tapi mereka sejatinya merupakan sumber inspirasi bagi kita untuk melakukan hal-hal kecil (semoga juga hal-hal besar) yang memiliki efek besar dan luas. Mirip seperti burung hudhud dalam kisah kerajaan dan kepemimpinan nabi Sulaiman[2], mereka sejatinya “pasukan” terbaik untuk menuntaskan peran terbaik dalam organisasi kita. Penambahan nama “Keluarga Besar Mahasiswa” yang disingkat KBM pada organisasi mahasiswa intra kampus di IAI BBC merupakan formula agar ide, analisis dan daya kritis orang-orang potensial semacam itu tak berserakan, tapi terkelola sehingga semakin kontributif dalam membangun organisasi dan kampus tercinta IAI BBC.
Kelima, mampu mengidentifikasi dan menfirasati hasil. Selain berpijak pada fakta (orang dan materi) dan intuisi, organisasi mahasiswa yang “memasa depan” juga berpijak pada kemampuan aktivis atau pegiatnya dalam mengidentifikasi unsur-unsur pendukungnya, di samping kemampuan memfirasati hasil-hasilnya. Dengan begitu, kita pun terdorong untuk terus menjaga semangat aktivisme dalam diri kita.  Singkatnya, kita mesti mengantisipasi secara matang masa depan organisasi yang sedang kita giati. Dan—mengelaborasi tesis Peter Drucker—cara terbaik mengantisipasi dan menciptakan masa depan adalah dengan cara memfirasati dan merencanakannya di masa kini. Akhirnya, selamat bersidang para pemimpin muda Indonesia![3] []  




[1] Silakan baca buku The Extreme Future; 10 Tren Utama yang Membentuk Ulang Dunia 20 Tahun ke Depan (Jakarta: Pustaka Alvabeta, 2009), karya James Canton. 
[2] Diantara ayat yang mengulas tentang kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an terdapat pada surat Shad [38] ayat 29-40, Saba’ [34] ayat 12-13, dan An-Naml [27] ayat 15-44. Silakan baca buku Quantum Leadership of King Sulaiman; Mematangkan Talenta Kepemimpinan Ala Nabi Sulaiman (Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga, 2010), karya Rijalul Imam.
[3] Judul asli “Menciptakan Masa Depan” (Perspektif Membangun Organisasi Mahasiswa), disampaikan pada momentum Sambutan Pembukaan Sidang Umum (SU) Senat Mahasiswa (SEMA) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM)  Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC) pada Sabtu 18 Februari 2017 dengan tema “Menguatkan Konstitusi, Memajukan Organisasi”. Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) KBM IAI BBC Periode 2016-2017, Mahasiswa semester VI Prodi PAI, dan Pegiat PENA IAI BBC.  
No comments

No comments :

Post a Comment