Membuat Momentum, Melunasi Janji



SALAH satu ciri organisasi mahasiswa yang memiliki peluang untuk melakukan kerja-kerja sejarah adalah ia memiliki kehendak yang kuat dalam menghadirkan momentum. Ini merupakan modal penting yang mesti dimiliki, sebab ia memiliki efek ganda dan luas dalam melahirkan berbagai perubahan. Jika kita sepakat dengan perspektif semacam itu, terutama di kampus tercinta Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC) ini, maka rumusannya dapat kita elaborasi dari studi fisika. Ya, momentum apa pun yang ingin kita ciptakan atau wujudkan bagi kampus ini, rumusannya jelas, harus mengikuti ketentuan kauniyah-Nya, yakni massa dikali kecepatan. Atau dalam studi fisika rumusannya yaitu, momentum (p) merupakan hasil kali dari massa dikali kecepatan, p= m x v.
 
Kalau saya boleh menerjemahkan rumusan tersebut dalam konteks organisasi mahasiswa di kampus ini seperti Senat Mahasiswa (SEMA), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Unit Kegiatan Khusus (UKK), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Konsulat Mahasiswa (Kosma), atau sebutan lainnya, maka massa bisa diterjemahkan dengan, misalnya, pimpinan kampus, tenaga pengajar, staf, karyawan dan pegiat organisasi mahasiswa itu sendiri. Dalam konteks organisasi mahasiswa tentu yang terutama (yang saya maksud) adalah pegiat organisasi mahasiswa. Sedangkan kecepatan adalah respon, upaya dan tindakan yang mempercepat dan menunjang terjadinya berbagai akselerasi perubahan menuju kampus yang lebih baik; terutama dalam mewujudkan visi-misi dan tujuan kampus sebagai payung organisasi mahasiswa. 
Nah, kalau kita mengikuti rumusan di atas, atau jika kita ingin menciptakan momentum, maka rumusannya adalah perbanyaklah kuantitas dan kualitas massa, yaitu orang-orang yang memiliki impian besar, berpikir positif, memiliki kompetensi, mampu mengelola potensi diri, dan siap bekerja dalam tim yang solid; lalu bersamaan dengan itu kita mampu memperluas sekaligus perbesar tingkat akselerasi kita dalam banyak hal, terutama dalam hal pengetahuan, wawasan, kepemimpinan, keorganisasian, manajemen, jaringan, memetakan sumber daya atau orang, dan kemampuan eksekusi, termasuk dalam mengelola aspirasi dan menjalankan mandat mahasiswa.
Sebagai penegasan, rumusan momentum itu sendiri bukanlah massa ditambah kecepatan, tetapi massa dikali kecepatan. Itu artinya, satuan kekuatan kita sebagai seorang pegiat organisasi mahasiswa bukan ditambah dengan satuan pegiat lainnya, melainkan seorang dan seorang lainnya—yang tentunya bukan satu atau dua orang (super man) tapi banyak orang (super team)—digandakan sehingga berlipat ganda dalam sebuah sistem organisasi yang solid, terkelola dan akseleratif dalam menghadirkan perubahan di tengah kehidupan masyarakat kampus.
Oleh karena itu, setiap kita mesti banyak membaca referensi (buku, tulisan) dan rajin mencari teman lalu berdiskusi dengan mereka yang berpengalaman, sehingga kita mampu merancang suatu mekanisme yang modern dan mampu mendesain proses regenerasi pegiat berbagai organisasi di kampus kita ini secara utuh: dirancang secara heroik (psikomotorik), menjiwai hingga tingkat kesadaran yang tinggi (afektif), dan memantik daya pikir (kognitif) para pegiat itu pada persoalan dan kemampuannya menjadi penuntas masalah (problem solver), bukan sekadar penebar masalah (problem speaker), atau malah menjadi pembuat masalah (problem maker).
Kerja-kerja ini akan berhasil jika ia ditopang dengan sistem organisasi yang terpadu di semua aspeknya, baik dari sisi aturan, tata keorganisasian, peta kerja, sumber dana (keuangan), jaringan, kecepatan menanggapi persoalan (tidak sekadar cepat bersikap), kemampuan menjaring gagasan, kemampuan mengelola keragaman potensi dan daya dukung lainnya secara operasional.
Dalam konteks itu, terutama dalam konteks organisasi mahasiswa di IAI BBC, saya berpandangan bahwa proses vertikalisasi sumber daya organisasi (baca: pegiat), mestinya juga menjadi pola kultural yang kita kembangkan dan lakukan secara masif. Lebih praktis, misalnya, pelibatan mahasiswa yang tak begitu aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa, di samping menjadikan mahasiswa (yang masih baru) sebagai panitia dalam berbagai kegiatan organisasi yang ada di kampus kita ini.
Selain mempercepat proses pematangan aspek organisasi dan kepemimpinan, pola seperti ini juga akan menambah pengalaman juga akselerasi pegiat organisasi yang ada. Dengan begitu, kelak tak ada lagi yang kagetan atau risih dengan berbagai kerumitan, dinamika bahkan konflik organisasi. Justru itu semua akan dijadikan sebagai media pematangan kompetensi sekaligus modal besar bagi mereka dalam memandang masa depan organisasi, bahkan di saat kelak mereka hidup dan bergulat di masyarakat luas, bangsa dan negara tercinta Indonesia.
Saya sangat percaya bahwa kita semua adalah pembelajar yang—secara jujur mesti diakui—masih membutuhkan banyak pengetahuan, pengalaman dan tantangan yang membuat kita semakin kaya perspektif, matang dan tahan banting dalam menjalankan dan memahami dinamika juga keragaman potensi dalam organisasi. Untuk itu, sekali lagi, kita mesti banyak membaca, di samping terbiasa untuk menempatkan orang lain secara manusiawi dalam segala makna dan aspeknya, termasuk menularkan kemampuan dan potensi kita masing-masing, sehingga menjadi pemicu sekaligus pemacu bagi yang lain untuk melakukan tindakan produktif, terutama di saat menghadapi kerumitan dan perbedaan atau dinamika yang dialami dalam organisasi yang kita geluti.
Kerja kita sekarang dan ke depan, adalah, melakukan objektivikasi atau aksi nyata atas semua ide baik yang kita miliki dalam sistem dan mekanisme organisasi yang lebih maju dan kegiatan oragnisasi yang lebih praktis, sehingga memiliki efek positif dari berbagai sisi, bukan saja bagi kita sebagai pelaku organisasi yang kita geluti, tapi juga untuk seluruh keluarga besar civitas akademika atau kampus yang kita cintai ini, bahkan masyarakat luas.
Sungguh, saya sangat percaya bahwa semua itu akan menjadi kenyataan manakala kita mampu mengejahwantahkan rumusan tadi dalam kerja ril, yaitu: meningkatkan kompetensi diri, melahirkan generasi baru yang kompeten, akseleratif dalam merumuskan tata organisasi, cerdas dalam merencanakan kegiatan, dan progresif dalam mempelajari berbagai hal serta mampu mengkoneksikan berbagai potensi dan kepentingan dari beragam organisasi mahasiswa yang kita miliki di kampus ini.   
Apa yang kita bicarakan, rencanakan dan lakukan dalam berbagai kegiatan organisasi adalah cara terbaik dalam melunasi janji-janji kita di hadapan mahasiswa beberapa waktu lalu. Bukan saatnya lagi bagi kita untuk memperbesar perbedaan, sebab kita memang berbeda-beda dalam segala aspeknya: pengalaman, karakter dan kebiasaan. Tapi percayalah, dalam keragaman itu kita semua masih memiliki mimpi yang sama, yaitu memajukan kampus tercinta IAI BBC. Kini saatnya menyisihkan ego pribadi, melepas tendensi yang tak bermanfaat, dan melampaui dinamika yang tak produktif; sebab tugas kita kini dan ke depan terlalu banyak. Jangan sampai mandat mahasiswa yang sesaat ini hanya kita isi dengan berbagai sikap dan tindakan yang sia-sia: kemarahan, kebencian, ketersinggungan dan jalan tanpa arah.   
Saya dan tentu saja kita semua sama-sama berharap agar seluruh niat baik, upaya saling menasihati dan ketulusan menebar saran bahkan kritik dapat membuka kebekuan, membongkar kebuntuan sekaligus mencerahkan pikiran dan cara pandang kita semua dalam memahami organisasi dan menjalankan mandat mahasiswa yang ada di kampus tercinta ini.   
Sungguh, kita semua memiliki impian, agar kelak secara bersama kita bisa menjalani aktivitas organisasi dengan baik, penuh pengorbanan, saling memahami, penuh pengertian, bernyawa persahabatan dan mengedepankan azas kekeluargaan. Kalau ada keringat, air mata, dan hati serta perasaan yang terlukai—yang pernah membersamai kita selama di organisasi—maka percayalah semua itu adalah saksi paling jujur bahwa kita pernah menanam kebaikan di kampus ini. Biarlah semua itu menjadi saksi dan kisah yang kita kenang kelak, bahwa kita pernah bersama. Selebihnya, percayalah apapun yang kita lakukan dan alami tak pernah luput dari pengetahuan Allah. Semuanya terrekam dalam catatan malaikat-Nya.  
Mari membangun kesadaran diri, membuka mata hati, lalu segeralah saling meminta dan memberi maaf, merajut persahabatan dan memupuk suasana kekeluargaan, serta memperkuat kembali soliditas organisasi kita. Semoga dengan begitu, kelak kita bisa mengenang dan bercerita penuh ceria tentang banyak hal tentang kita semua dengan segala keragaman potensi, kesan dan pengalamannya. Bukan saja tentang si dia yang mungkin kini mendekat dan menyimpan harap pada kita, atau tentang si dia yang kelak ditakdirkan menjadi milik kita; tapi juga tentang si dia yang kerap berbeda dengan kita, namun selalu memiliki doa dan harapan terbaik untuk kita. Akhirnya, selamat membuat momentum agar mampu melunasi janji! [Oleh: Syamsudin Kadir—Ketua SEMA KBM IAI BBC Periode 2016-2017 dan Pegiat PENA IAI BBC. Tulisan ini akan disampaikan pada pembukaan acara Rapat Koordinasi Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC) Pada Ahad 5 Februari 2017 di Kampus IAI BBC, Tuparev-Cirebon]



No comments

No comments :

Post a Comment