Sajak Kematian

Kami akan datang sebentar lagi
menerobos celah pintu
memelukmu dan berkata:
“Kematian itu tumbuh bersama detak jantung,
bersama penyair yang membaca sajak, bersama para guru yang jujur
bersama tukang becak yang santun, bersama pemuda yang optimis dengan masa depan bangsanya
bersama pemain bola yang menggiring bola, bersama politisi yang kerap ingkar janji
bersama penyiar berita bohong di TV, bersama penyiar dusta di studi radio
bersama kiai yang menjual diri kepada dunia, bersama santri yang kerap bebal dalam bersikap
bersama kaum nyeleneh yang melawan Tuhan, bersama redaktur surat kabar yang tergoda dengan janji pragmatis, dan topeng-topeng”
Kami akan memelukmu dari balik celah pintu
lalu berjanji datang ke negeri ngeri, ke negeri sunyi
kami akan datang sepanjang waktu
menerobos celah pintu dan memelukmu
dengar kami berbisik:
“kematian itu rindu batang tubuh,
rindu cairan mata,
rindu cinta kepasarahan”
dengar kami mengerang:
“kematian itu membelit ruh,
menarik jiwa,
mengacak-ngacak keyakinan,
membuang semua rahasia,
mencabik kulit,
memotong tulang”
Kami berjanji, akan datang ke celah pintu
menjemput membawamu kepada keabadian
merantaimu, menghalaumu dari kefanaan
8 Agustus 2015
Syamsudin Kadir, Pegiat PENA IAI BBC 
No comments

No comments :

Post a Comment