Publish or Perish!



DALAM dunia akademis dan kepenulisan, ungkapan Publish or Perish kerap “memanasi” telinga banyak orang, termasuk saya yang masih baru dalam dunia kepenulisan. Intinya sederhana tapi tegas : terbitkan gagasan kita, atau kita lenyap begitu saja. Maka, menulis (buku, novel, artikel, essay, puisi, cerpen dan serupanya), misalnya, memiliki nilai eksestensial tersendiri, yang membuat penulisnya merasa lebih hidup bermakna atau bermakna dalam hidupnya.

Karena menulis dapat memberi efek semacam itu, maka menulis menjadi sebuah agenda prioritas. Itulah yang kita perlu tanamkan dalam hati dan pikiran kita ketika menyebut dan menempatkan aktivitas menulis sebagai passion kita. Gairah atau semangat kita dalam menulis akan menuntun kita pada situasi yang berdarah-darah, yaitu bahwa kita harus berusaha ekstra keras demi menulis hingga menerbitkan karya tulis kita apapun bentuk atau jenisnya : buku, novel, artikel, essai, puisi, cerpen dan serupanya.


Dalam kata passion sendiri terdapat 2 makna yang saling bertolak belakang. Yang sering mampir pertama kali dalam benak siapapun ketika mendengar kata passion adalah sebuah semangat luar biasa yang menggerakkan seseorang, membuat seseorang seolah jatuh-bangun cinta sangat mendalam. Namun demikian, passion juga berarti derita, derita yang hebat, yang kadang tidak tertahankan di mata orang yang menyaksikan.

Passion sendiri merupakan bentukan dari bahasa Yunani, pathos, dan diteruskan dalam bahasa Latin, passio yang berarti “sakit”. Jadi, saya dapat katakan bahwa jika menulis sebagai passion kita, maka ia akan: (1) membiarkan diri kita bekerja sangat keras, (2) membiarkan diri kita terombang-ambing dalam imajinasi kita sendiri, (3) membiarkan diri kita menulis mati-matian, (4) membiarkan diri kita mengoreksi tulisan kita sendiri hingga larut malam, (5) memaksa diri kita untuk mempublikasikan tulisan kita ke berbagai media masssa dan media sosial, dan sebagainya. Dari “derita” yang keras itu, muncul-lah endorphin, yang jadi gairah  kita dalam menghadirkan dan menyelesaikan karya tulis kita hingga akhir, atau mewujud dalam bentuk karya nyata: produk kepenulisan.

Zadie Smith, seorang novelis Inggris, pernah ditanya tentang seberapa jauh passion menulis itu telah mengubah hidupnya secara masif dan berpengaruh besar untuk waktu jangka panjang. Ia mengatakan, “Menulis mengajak ia untuk undur diri, ke dalam kesedihan mendalam yang lahir dari keadaan tak terpuaskan.” Ia menambahkan, “99 persen bakat, 99 persen kedisiplinan, dan 99 persen kerja keras! Ia tidak boleh berpuas diri terhadap apa yang ia capai.” Sebuah ikhtiar yang seimbang. Terutama bila kita sadar, bahwa taruhannya besar : menulis, atau lenyap tak terkenang!

Passion akan mengajak kita berjalan jauh, sangat jauh. Tapi biar bagaimana pun, kita akan sangat puas. Teruslah menulis, dan jangan menanti tulisan kita seideal yang kita mau, atau seideal yang pembaca mau. Sebab, kelamaan menanti yang ideal justru membuat kita tidak segera menulis alias mengurungkan niat kita untuk menulis.

Seorang novelis dan penulis skenario terkenal AS, Stepen King pernah mengatakan: “Seorang penulis yang menunggu kondisi ideal untuk mengerjakan tulisannya, akan mati tanpa menuangkan satu huruf pun.” Menurut King, “Kalau ada yang disebut bakat, itu adalah sebuah ketekunan yang membuat orang mau duduk berlama-lama di depan mesin tik dan menuangkan ceritanya, tak peduli itu bagus atau tidak”, ungkap penulis puluhan novel, puluhan buku kumpulan cerpen dan komik ini.

King memang tidak secara otomatis menghasilkan karya yang spektakuler. Sebelum novel pertamanya berhasil terbit (Carrie, novel pertamanya, terbit 5 April 1974), ia mengalami penolakan puluhan kali dari bermacam-macam agen dan penerbit. Namun ia tak patah semangat. Semua surat penolakan itu ia simpan baik-baik. Bahkan setiap surat yang ia dapatkan itu, ia tempelkan di tembok dalam rumahnya, sehingga ia dengan mudah melihat kembali, dan berusaha untuk memperbaiki sekuat tenaga.

Lagi-lagi itulah passion. Passion-nya untuk menulis telah menghasilkan sebuah kedisiplinan yang tiada tara. Ia mengalokasikan waktu yang sangat banyak setiap harinya untuk menulis. Dan, ketika King menulis, ia akan masuk kamar, mengunci dirinya, dan mengusahakan kamarnya steril dari aneka gangguan. Di dalam, ia tidak akan bersantai atau menunggu inspirasi menulis. Yang ia lakukan adalah menulis apa yang terlintas di pikirannya, apapun itu. Ada sebuah ungkapan King yang layak kita baca dan renungi secara mendalam, kata King, “Jika selama sepekan tidak ada satu buku pun yang kamu baca, dan tak ada satu pun tulisan yang kamu buat, maka lupakan cita-cita kamu untuk menulis!”

Richard St. Cross, dalam bukunya 8 To Be Great, mengatakan, “Orang yang didorong oleh passion akan mau melakukan hal yang ia sukai itu, bahkan mesti ia tidak menerima bayaran sepeser pun.Jika menulis adalah passion kita, sungguh dia akan mengubah habis-habisan gaya hidup kita. Dari orang yang kerap melewati waktu tanpa aktivitas, menjadi orang yang selalu mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, termasuk dengan menulis. Ingat, menulis memang bukan bakat bawaan sejak lahir, namun kita semua memiliki peluang untuk menulis bahkan menjadi penulis. Sebab menulis adalah aktivitas yang dapat ditekuni.

Kunci sekaligus modalnya, diantaranya, (1) berani dan banyak membaca, (2) berani dan banyak menulis, dan (3) berani dan banyak mempublikasi. Lakukan itu semua meskipun kita tak dibayar!

Akhirnya, pilihan ada pada diri kita masing-masing, Publish or Perish”. Saya sendiri memilih “Publish. Entah apakah kelak dikenang sebagai penulis atau tidak, itu tidak penting. Sekali lagi, tidak penting. Sebab yang penting saya telah melakukan apa yang saya mau dan suka : menulis dan menulis. Mudah-mudahan kita semua yang hadir di tempat ini tergoda alias terprovokasi! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon]   
No comments

No comments :

Post a Comment