Menulis Sambil Menanti...



Akhir-akhir ini menulis menjadi salah satu aktivitas yang digandrungi oleh banyak kalangan. Tak mengenal usia, dari yang sudah berusia tua dan dewasa maupun yang masih anak-anak tenggelam dalam lautan kepenulisan. Banyak hal yang kerap dijadikan sebagai media untuk menunjang kreavitas dalam menghadirkan tulisan mereka. Baik facebook, twitter, BBM, SMS, E-Mail maupun catatan harian bahkan blog atau website.
Saya tidak membahas soal media kepenulisan secara detail, karena itu tugas pembaca. Ya, tugas Anda yang sedang membaca tulisan ini. Oke, siap ya?
Pada tulisan ini saya sedang membincang soal menulis yang kerap menghantui saya, yaitu: menulis sambil menanti banyak hal. Ya, saya biasanya menulis dalam kondisi saya menanti teman yang janjian bersua, menanti peserta seminar yang hendak mengikuti seminar kepenulisan, menanti pegiat pena yang kerap terlambat di saat jadwal berkumpul atau kajian, dan begitu seterusnya.  Intinya, saya menulis sambil menanti.
Satu pengalaman yang cukup menyebalkan adalah di saat saya menanti para mahasiswa di IAI Bunga Bangsa Cirebon yang beberapa waktu lalu menyampaikan masukan atau saran agar diadakan kajian seputar kepenulisan. Sebagai respon atas niat baik mereka akhirnya diinformasikan bahwa akan Kajian Pekanan Bareng PENA pada Selasa 31 Januari 2017 pukul 12.30-14.00 WIB. Acara yang rencananya dilaksanakan di Lantai III Gedung Pascasarjana IAI BBC tersebut berjudul “Langkah Menulis Cepat”.
Tema ini sengaja diangkat dengan banyak sebab, misalnya, memantik semangat dan motivasi menulis para mahasiswa IAI BBC dan umum. Bagaimanapun, diantara kendala yang kerap dijadikan alasan untuk tidak menulis selama ini adalah tak bisa menulis cepat. Ini mungkin dianggap terlalu ideal, tapi menulis cepat sejatinya dapat dilakukan. Ya, minimal ada semangat untuk itu.
Lalu, apa saja langkah praktis agar menulis bisa dilakukan dengan cepat dan menghasilkan karya yang layak dipublikasi?
Pertama, merdekakan pikiran. Ya, memerdekakan pikiran artinya membebaskan pikiran di saat menulis. Kalau mau menulis, silakan langsung saja menulis apa yang sedang dipikirkan. Jangan mengekang pikiran dengan alasan-alasan mengada, misalnya, belum ada kata, belum bisa menulis, tak ada ide dan sebagainya. Alasan-alasan tersebut hanyalah penjajah pikiran dalam bentuk lain. Padahal menulis itu sendiri membutuhkan sikap bebas atau kebebasan diri. Tulisan ini saya buat karena saya sangat percaya bahwa di saat saya menulis tak seorang pun yang menghalangi saya. Pokoknya menulis sesuai dengan selera saya, ya selera pikiran saya.
Kedua, memperbanyak sumber bacaan. Sumber bacaan itu sendiri banyak bentuk atau jenisnya. Ada buku, makalah, majalah, jurnal, buletin, dan sebagainya. Di samping website atau blog yang sudah tersebar di mana-mana. Nah, dengan berbagai sumber bacaan tersebut siapapun akan dengan mudah mendapat berbagai bacaan dalam beragam tema atau topik. Sederhananya, banyaklah membaca, maka Anda pun akan menampung banyak kosa kata atau pengetahuan baru. Semakin banyak saldonya, maka akan semakin terdorong untuk menulis dan terus menulis.
Ketiga, berani memulai menulis. Tak satupun aktivitas yang selesai dilakukan tanpa memulai. Begitu juga menulis. Kalau sekadar angan-angan, maka menulis hanyalah angan-angan. Padahal menulis itu adalah kata kerja yang menghendaki adanya tindakan yaitu menulis. Jadi, kalau ada orang yang hendak menulis dan ngebet banget memiliki karya tulis, maka langkah utama yang  mesti dipilih adalah berani menulis atau menulislah dari sekarang. Jangan menunggu sampai menguasai teori. Menulis itu tak perlu banyak teori, cukup banyak menulis. Kalau karya tulisnya sudah banyak, akan dengan sendirinya teori kepenulisan dikuasai juga. 
Kembali ke awal, lalu mengapa menyebalkan? Ya, karena saya menunggu peserta yang mau mengikuti kajian kali ini. Sampai tulisan ini selesai ditulis, baru ada tiga orang yang datang. Saya dan dua orang lagi yang memanti di luar ruangan. Semuanya menanti kehadiran yang lain. Entah apakah kondisi semacam ini disebabkan karena memang tidak memiliki niat terjun di dunia kepenulisan, atau karena dosen yang mengampu mata kuliah belum punya karya ilmiah yang terpublikasi, ya saya tak tahu. Yang pasti, kondisi semacam ini sangat menyebalkan. Dunia akademik yang mesti bernyawa tradisi ilmiah justru nihil tradisi itu.
Saya bertambah kesal karena begitu banyak yang bertanya soal tulis-menulis, bahkan bagi saya sangat mengganggu aktivitas saya. Mengapa? Karena ada yang bertanya di saat saya makan, saya menuntaskan tulisan di perpustakaan kampus, saya lagi menuntaskan aktivitas lain, dan sebagainya. Biar tak mengganggu, akhirnya saya lebih memilih mengadakan kegiatan yang  dimungkinkan mampu menjawab berbagai pertanyaan seputar kepenulisan seperti yang mereka tanyakan dan keluhkan selama ini.
Jadi, ada yang butuh penjelasan seputar kepenulisan, tapi di saat ada penjadwalan justru tak ada yang hadir, bahkan tak ada yang konfirmasi bisa atau tidak bisa hadir di forum yang semestinya dinanti oleh banyak orang ini. Apakah di IAI BBC kehabisan semangat untuk menghadirkan produk ilmiah?
Oke, ini mungkin pengalaman yang membuat saya semakin percaya bahwa menulis pekerjaan mulia; dimana ia hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang siap berkorban, mau belajar, dan memiliki cita-cita besar demi masa depan diri atau kehidupannya. Saya percaya bahwa tulisan ini hanyalah satu diantara begitu banyak pengalaman saya seputar kepenulisan. Selain menyebalkan, juga mengucurkan keringat serta air mata.  
Ya, biarlah tulisan ini menjadi saksi bahwa saya masih memiliki niat baik dan tujuan positif: menyebar virus menulis. Saya punya impian agar kelak menulis menjadi aktivitas yang disukai, minimal saya sendiri semakin menyukainya. Adapun mereka yang hanya manis di mulut, ya biarkan mereka tersingkir dari sejarah. Ingat, sejarah akan berlanjut di tangan mereka yang mau belajar dan terus belajar sehingga menjadi pembelajar sejati. Akhirnya, biarlah saya menanti sampai akhir... [Oleh: Syamsudin Kadir—Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon. Lantai III Gedung Pascasarjana IAI BBC, Selasa 31 Januari 2017 Pukul 13.45-14.10 WIB]   
No comments

No comments :

Post a Comment